Hukum

Mangkir 3 Kali, Polri Akan Jemput Paksa Bachtiar Nasir

Bachtiar Nasir
Bachtiar Nasir. (Foto: Tribunnews)

Penyidik Bareskrim Polri berencana menjemput paksa Bachtiar Nasir sepulangnya ke Indonesia. Mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan tindak pidana pengalihan aset Yayasan Keadilan Untuk Semua.

Ini merupakan panggilan ketiga dan Bachtiar berhalangan hadir karena memiliki acara di Arab Saudi.

“Hari ini dari penyidik menerima kembali informasi dari pengacaranya, yang bersangkutan tidak bisa hadir memenuhi panggilan penyidik hari ini. Karena kebetulan ada kegiatan di luar negeri,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (14/5/2019).

Baca: Tak Penuhi Panggilan Polisi, Pengacara: Bachtiar Nasir Sedang Hadiri Liga Muslim Dunia di Mekkah

Maka dari itu, penyidik memiliki kewenangan untuk menjemput paksa Bachtiar untuk dimintai keterangan. Dedi mengatakan, upaya tersebut tertuang dalam Pasal 112 ayat 2 KUHAP.

“Apabila kita sudah mendapatkan informasi apa yang bersangkutan sudah hadir atau sudah datang ke Indonesia, maka sesuai kewenangan penyidik yang diatur dalam KUHAP, penyidik akan melakukan penjemputan,” ujar Dedi.

Adapun terkait kemungkinan Bachtiar melarikan diri, Dedi mengatakan komunikasi dengan pengacaranya masih berjalan baik.

Penyidik, katanya, juga menilai Bachtiar masih beritikad baik.

“Komunikasi saat ini masih cukup baik dengan pihak pengacaranya dan penyidik nantinya masih menilai itikad baik dari yang bersangkutan karena yang bersangkutan sudah berkomunikasi dengan pengacara,” tutur Dedi.

“Kita berharap sebagai WNI yang baik, tentunya harus taat hukum dan menghargai seluruh proses hukum yang berjalan,” lanjutnya.

Sedianya, Bachtiar Nasir dijadwalkan menjalani pemeriksaan dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pada Selasa (14/5/2019). Namun pihak pengacara menyebut Bachtiar tidak bisa memenuhi panggilan Bareskrim Polri lantaran sedang menghadiri acara Liga Muslim Dunia di Mekkah, Arab Saudi.

“Benar (sedang berada di Mekkah). Sejak beberapa hari yang lalu saya lupa. Menghadiri undangan acara Liga Muslim Dunia,” kata pengacara Bachtiar Nasir, Aziz Yanuar, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Senin (13/5).

Ketika ditanya kapan Bachtiar akan kembali ke Tanah Air, Aziz mengaku tidak mengetahui secara pasti. Dia menduga Bachtiar bisa berada di Mekkah hingga akhir Ramadan.

“Belum tahu (kapan kembali ke Indonesia),” kata Aziz.

Tak hanya itu, Aziz juga mengaku tidak tahu bahwa kepolisian telah meminta Ditjen Imigrasi Kemenkumham mencekal kliennya bepergian ke luar negeri.

“Saya tidak tahu kalau masalah pencekalan,” ucap Aziz.

Aziz mengaku sudah mengirimkan surat permohonan penundaan pemeriksaan ke Bareskrim Mabes Polri.

“Tadi saya antar surat permohonannya ke Mabes Polri. Permohonan penundaan pemeriksaan, ” ucap Aziz.

Dalam surat tersebut, kuasa hukum atas nama Tim Advokasi Ustaz Bactiar Nasir (TA-UBN), memohon penundaan pemeriksaan kliennya pada Selasa (14/5).

“Karena klien kami saat ini sedang berada di Mekkah untuk menjalankan ibadah umrah dan selanjutnya memenuhi undangan dari Muslim World League untuk mengikuti Konferensi Internasional di Mekkah tanggal 19-22 Mei dengan tema Moderasi Islam dalam Quran dan Sunnah,” demikian penggalan isi surat permohonan penundaan pemeriksaan.

Undangan kepada Bachtiar Nasir dari Liga Muslim Dunia juga dilampirkan. Undangan itu bertuliskan aksara Arab.

Diketahui, kepolisian telah menetapkan Bachtiar Nasir sebagai tersangka kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) lewat Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS).

Bachtiar disebut mengelola dana sumbangan masyarakat sekitar Rp 3 miliar di rekening yayasan Yayasan Keadilan untuk Semua. Dana itu diklaim Bachtiar digunakan untuk mendanai Aksi 411 dan Aksi 212 pada tahun 2017 serta untuk membantu korban bencana gempa di Pidie Jaya, Aceh dan bencana banjir di Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Namun, polisi menduga ada pencucian uang dalam penggunaan aliran dana di rekening yayasan itu.

Loading...