Pemilu, Pilpres

Istri Penulis Buku “Jokowi People Power” Nilai Tindakan Amien Rais Tak Beretika

Amien Rais
Amien Rais (tengah) menunjukkan buku berjudul Jokowi People Power saat diperiksa di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (24/5/2019). (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

Anggota Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Amien Rais, sempat membawa buku berjudul ‘Jokowi People Power’ saat diperiksa polisi, Jumat (24/5/2019).

Buku ‘Jokowi People Power’ ditulis oleh almarhum Bimo Nugroho bersama M. Yamin Panca Setia. Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dan dirilis pada pada 7 Januari 2015 lampau.

Beberapa waktu lalu buku itu juga sempat menggegerkan publik setelah disebut oleh Eggi Sudjana yang kini menjadi tersangka dugaan makar.

Dan kini kembali buku tersebut kembali jadi bahan perbincangan publik setelah Amien Rais membawanya dalam pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jumat (24/5/2019). Amien diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan makar dengan tersangka Eggi Sudjana.

Baca: Penuhi Panggilan Polisi, Amien Rais ke Polda Metro Bawa Buku “Jokowi People Power”

Tatty Apriliyana, istri dari almarhum Bimo Nugroho, menanggapi aksi Amien Rais tersebut melalui surat terbuka yang diunggahnya di akun Facebook.

Dalam keterangannya, Tatty menyebut, apa yang dilakukan Amien Rais bukanlah teladan dan tingkah laku etik yang patut.

Sebab, Amien menggunakan buku tersebut untuk kepentingan narasi politiknya.

“Sungguh bukan tauladan dan bukan laku etik yang patut, ketika karya Pakbim Bimo Nugroho yang sudah tak bisa melakukan bantahan, digunakan Amien Rais untuk kepentingan narasi politiknya,” tulis Tatty dalam keterangan surat yang diunggahnya.

“Lihat bedanya, sebagaimana yang diringkaskan oleh sahabat Pakbim Mas Eddy Suprapto. Buku almarhum berupa catatan perjuangan rakyat 2014 mendukung kepemimpinan sipil melalui kontestasi demokrasi lewat pemilu yang fair. People Power Amien Rais adalah ajakan untuk makar,” lanjutnya.

Tatty Aprilyana

Istri almarhum Bimo Nugroho penulis buku ‘Jokowi People Power’, Tatty Aprilyana. (Foto: Facebook)

Tatty mengaku terkejut saat mengetahui Amien Rais membawa dan memamerkan buku ‘Jokowi People Power’ dan memamerkan ke awak media.

Buku ‘Jokowi People Power’, kata Tatty, merupakan catatan yang dibuat mendiang suaminya dan sahabatnya, M Yamin Panca Setia.

Isinya mengenai pelajaran dalam proses kerja politik sukarela yang dilakukan oleh banyak pihak, organisasi, kelompok dalam Pemilihan Presiden tahun 2014.

Buku tersebut, bukanlah ajakan melakukan ‘people power’ sebagaimana yang selama ini digaungkan Amien Rais.

Terkait posisi politik maupun kepentingan Amien Rais, hal itu bukan urusan keluarga penulis buku tersebut.

Namun, Tatty dan keluarga keberatan bila buku tersebut digunakan sebagai usaha Amien Rais menggiring opini publik tentang ‘Jokowi People Power’.

Tatty memungkasi tulisannya dengan menegaskan sekali lagi keberatan serta penolakanna terhadap upaya Amien Rais yang menurutnya tak beretika.

Politisasi buku Jokowi People Power, kata Tatty, tidak sepatutnya dilakukan. Selain itu dia pun meminta Amien menjelaskan tujuannya melakukan politisasi buku ‘Jokowi People Power’.

Baca juga: Amien Sebut People Power yang Dia Gaungkan Cuma Enteng-entengan, Bukan untuk Jatuhkan Presiden

Berikut isi lengkap surat terbuka dari Tatty Apriliyana untuk Amien Rais:

SURAT TERBUKA UNTUK AMIEN RAIS

Kemarin, 24 Mei 2019, dari beberapa grup wa yang kami ikuti, kami mendapat kabar tentang ulah Amien Rais yang membawa dan memamerkan sebuah buku berjudul “JOKOWI PEOPLE POWER” saat ia diperiksa di Polda Metro Jaya sebagai saksi dalam kasus dugaan makar dengan tersangka Eggi Sudjana.

Dipamerkannya buku tersebut oleh Amien Rais dihadapan awak media tentu saja mengagetkan kami, anak dan istri Bimo Nugroho — penulis buku tersebut.

Buku “JOKOWI PEOPLE POWER” adalah sebuah catatan yang dibuat oleh Bimo Nugroho (Alm.) dan M. Yamin Ponca Setia (Alm.) tentang pelajaran dalam proses kerja politik sukarela yang dilakukan oleh banyak pihak, organisasi, kelompok dalam pemilihan presiden tahun 2014.

Bukan buku tentang ajakan melakukan “people power” sebagaimana yang dinarasikan oleh Amien Rais.

Kita sama mengetahui hari-hari belakangan Amien Rais dan gerombolannya lantang berteriak tentang seruan “people power” sebagai ekspresi politik mereka dalam mengkritisi (atau mengganggu?) proses politik elektoral yang tengah berlangsung dan merecoki jalannya pernerintahan yang sah.

Perihal posisi politik yang diambil Amien Rais dan gerombolannya sesungguhnya bukanlah urusan kami, keluarga dari almarhum Bimo Nugroho.

Kepentingan yang diusungnya juga bukan tanggung jawab kami.

Tetapi, kami sebagai anak-anak dan istri almarhum Bimo Nugroho sangat berkeberatan dengan digunakannya buku karya orang yang kami kasihi tersebut dalam upaya Amien Rais menggiring opini publik tentang adanya “JOKOWI PEOPLE POWER”.

Meskipun secara tersurat itu tidak dikatakannya, gestur politik yang ditunjukkan lewat pamer buku tersebut sepenuhnya membuat orang akan berfikir tentang adanya Jokowi people power.

Patut diduga dengan kuat Amien Rais sedang mencari relevansi “people power” yang diserukannya.

Di sinilah keberatan kami sebagai keluarga almarhum Bimo Nugroho timbul.

Kami menolak upaya tak beretika yang dilakukan Amien Rais dengan menggunakan hasil tulisan orang yang sudah tidak bisa melakukan bantahan untuk kepentingan politik pribadinya.

Politisasi buku “JOKOWI PEOPLE POWER” tidak sepatutnya dilakukan.

Kami meminta kepada Amien Rais untuk menjelaskan tujuannya dalam politisasi buku “JOKOWI PEOPLE POWER” tersebut.

Tertanda,

Taty Apriliyana (istri Bimo Nugroho)

Hayuning Sumbadra, Btari Kinayungan, Sangayu Piwulang Sae (anak-anak Bimo Nugroho)

Loading...