Hukum

Habib Bahar ke Jokowi: Tunggu Saya Keluar dan Rasakan Pedasnya Lidah Saya!

Bahar bin Smith jalani sidang di Gedung Arsip dan Perpustakaan Jalan Seram, Kota Bandung, Kamis (14/3/2019). (Foto: ddetikcom)

Bahar bin Smith melontarkan pernyataan bernada mengancam kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Terdakwa kasus penganiayaan remaja tersebut tampaknya serius dengan ancamannya itu.

“Sampaikan ke Jokowi, tunggu saya keluar!” kata Bahar sambil berjalan usai mendengarkan tanggapan jaksa atas eksepsinya di gedung Arsip dam Perpustakaan, Jalan Seram, Kota Bandung, Kamis (14/3/2019).

“Tunggu saya keluar dan rasakan pedasnya lidah saya,” lanjutnya.

Ancaman tersebut Bahar ucapkan lantaran dia menganggap ada ketidakadilan pada kasus yang menimpanya saat ini.

Bahar didakwa melakukan penganiayaan terhadap dua remaja. Dakwaan jaksa telah menguraikan detail aksi penganiayaan yang dilakukan Bahar.

Dalam dakwaan, Bahar dijerat pasal berlapis yakni Pasal 333 ayat 1 dan/atau Pasal 170 ayat 2 dan/atau Pasal 351 ayat 1 juncto Pasal 55 KUHP. Jaksa juga mendakwa Habib Bahar dengan Pasal 80 ayat (2) jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam sidang lanjutan yang digelar di gedung Perpustakaan dan Arsip, Kota Bandung, Kamis (14/3/2019) ini, Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bogor meminta majelis hakim menolak eksepsi (nota keberatan) yang disampaikan Bahar bin Smith. Jaksa menilai surat dakwaan yang dijadikan poin keberatan sudah sesuai dengan fakta.

Dalam uraiannya, jaksa menjawab soal poin eksepsi yang dibacakan penasihat hukum Habib Bahar dalam sidang sebelumnya. Salah satunya soal keberatan atas surat dakwaan yang tidak menjelaskan sebab akibat terjadinya perbuatan itu.

“Tanggapan kami, surat dakwaan sudah cermat uraian tentang tindak pidana. Siapa melakukan tindak pidana apa, kapan dilakukan dan apa akibat yang timbul sudah lengkap, bulat dan utuh mampu menggambarkan beserta waktu dan tempat tindak pidana,” kata jaksa saat membacakan tanggapannya.

“Dalam eksepsi penasihat hukum berpendapat surat dakwaan tidak cermat, jelas dan lengkap karena tidak menjelaskan sebab akibat tidak tepat. Penasihat hukum tidak cermat dan membaca. Karena di dakwaan sudah jelas menguraikan,” imbuh jaksa.

Selain itu jaksa juga menanggapi soal keberatan atas peran Bahar dalam perbuatannya itu.

Dalam eksepsi Bahar yang dibacakan ulang, pihak Bahar menyebut dalam dakwaan korban Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi disuruh berkelahi. Sehingga luka diakibatkan oleh mereka berdua.

Jaksa menanggapi bahwa eksepsi dari penasihat hukum itu sudah masuk materi pokok persidangan.

“Alasan penasihat hukum berada di luar ketentuan karena sudah terlalu jauh masuk materi pokok pemeriksaan, padahal pemeriksaan belum dimulai. Kami menjelaskan surat dakwaan sudah dibuat secara cermat dan jelas dalam dakwaan menguraikan fakta perbuatan terdakwa bersama-sama dengan saudara Habib Agil,” kata dia.

Atas uraian tersebut, jaksa meminta majelis hakim untuk menolak eksepsi yang diajukan penasihat hukum. Di samping itu, jaksa meminta hakim menerima surat dakwaan.

“Berdasarkan uraian di atas, dengan tidak mengurangi rasa hormat kami ke penasihat hukum yang melaksanakan tugas pada kesempatan ini, kami menyimpulkan permohonan eksepsi yang diajukan dan dibacakan adalah tidak beralasan. Oleh karena itu kami berpendapat permohonan (eksepsi) ditolak,” kata jaksa.

Loading...