Pemilu, Pilpres

BPN Prabowo-Sandi Bela Ibu-ibu yang Kampanye “Jokowi Menang Nikah Sejenis Sah”

Ferdinand Hutahaean
Ferdinand Hutahaean. (Foto: Antara)

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengakui ibu-ibu yang melakukan kampanye door to door di Karawang, Jawa Barat, dengan menyebar isu ‘azan dilarang dan nikah sejenis dilegalkan jika Jokowi menang’ merupakan relawan dari pasangan capres/cawapres nomor urut 02.

Juru bicara BPN, Ferdinand Hutahaean mengatakan para ibu-ibu itu tergabung dalam relawan Pepes.

“Mereka itu dari relawan Pepes. Saya tidak tahu kepanjangannya apa. Tapi mereka memang dari Pepes. Mereka sudah dapat sertifikasi dari BPN,” kata Ferdinand kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/2).

Adapun Pepes sendiri adalah akronim dari ‘Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi’. Meski demikian Ferdinand mengaku tidak tahu siapa di tubuh BPN yang memberi sertifikasi Pepes sebagai bagian dari relawan Prabowo-Sandi.

“Prabowo tidak menandatangani langsung. Relawan itu disertifikasi bisa oleh Ketua (BPN), Wakil Ketua, Direktur Relawan,” kata Ferdinand.

Lebih lanjut Ferdinand menegaskan bahwa BPN tidak pernah mengarahkan isu kepada para relawan termasuk Pepes. Isu yang diangkat para relawan di berbagai daerah disebut Ferdinand dibahas secara mandiri oleh relawan itu sendiri.

Terlepas dari itu, Ferdinand tak sepakat jika apa yang disampaikan ibu-ibu di Karawang itu dikategorikan sebagai kampanye hitam.

Menurut Ferdinand mereka hanya menyampaikan kekhawatiran seandainya Jokowi terpilih kembali.

“Mereka itu sampaikan apa yang mereka rasakan dan duga akan terjadi. Jadi mereka menyampaikan prasangka,” ucap Ferdinand.

Kekhawatiran ketiga perempuan itu, menurut Ferdinand, diduga disebabkan oleh sejumlah hal. Pertama, kata dia, menyangkut isu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang dianggapmarak di era Presiden Jokowi.

Isu LGBT itu juga disebut Ferdinand diatur dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Ferdinand tak menjelaskan secara rinci soal ini. Dia hanya menyebut dalam RUU PKS dugaan membolehkan praktik LGBT.

“Ada informasi hal-hal seperti ini (LGBT) tak boleh dikecam, karena nanti dianggap lakukan kekerasan terhadap kelompok tertentu,” kata dia.

Hal lain yang memicu kekhawatiran ibu-ibu tersebut, lanjut Ferdinand, karena ada polemik soal volume azan.

“Baru pada rezim inilah azan jadi diributkan dan jadi isu yang harus diperbincangkan. Bahkan masyarakat minoritas berani protes azan. Ini pertanda tidak baik dan zaman dulu tidak ada. Atas inilah emak-emak itu kampanye, mereka sampaikan prasangkanya,” kata Ferdinand.

“Jadi ini bukan kampanye hitam. Ini sama seperti saya menyebut ‘Jika Jokowi menang saya khawatir ekonomi Indonesia ambruk’. Itu bukan kampanye karena saya punya dasar, data-data mendukung kekhawatiran saya. Model berpikir emak-emak itu sama seperti saya,” lanjutnya.

Dia pun menantang Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf untuk menjawab kekhawatiran relawan Pepes di Karawang itu dengan argumentasi. Bukan dengan melaporkan ke polisi dan menyebutnya sebagai kampanye hitam.

“Pesan kami ke pemerintah terutama Jokowi dan timnya, isu ini silakan dibantah dengan argumen politik juga. Jangan sedikit-sedikit penjarakan orang, lah,”kata Ferdinand.

Sebelumnya, Kepolisian Resor (Polres) Karawang mengamankan tiga perempuan terkait peredaran video yang diduga berisi kampanye hitam terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Ketiga ibu-ibu tersebut langsung dibawa ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat untuk diselidiki lebih lanjut.

“Ada tiga (ibu-ibu) diamankan oleh Polres Karawang bersama Polda Jabar,” kata Kapolres Karawang Ajun Komisaris Besar Nuredy Irwansyah Putra kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/2).

Ketiga perempuan yang diamankan tersebut merupakan warga Karawang. Ketiganya adalah ES warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang, IP warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang dan CW warga Telukjambe, Desa Sukaraja, Kabupaten Karawang. Mereka diamankan polisi pada Minggu (24/2) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Penangkapan tersebut merupakan buntut dari beredarnya video ibu-ibu yang melakukan kampanye hitam dengan meyakinkan warga jika Jokowi menang azan akan dilarang dan nikah sejenis dilegalkan.

Video tersebut beredar di media sosial. Sejumlah media menyebut video tersebut dibuat di Karawang dan diunggah akun @citrawida5 di twitter.

Loading...