Pemerintahan

Jokowi Komentari Fotonya yang Disandingkan dengan Aidit

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Jokowi kerap diterpa hoax yang berkaitan dengan PKI dan komunisme. Hal itu sudah terjadi terjadi sejak masa kampanye 2014 lalu. Hingga kini kabar-kabar bohong tersebut terus disebar oleh sejumlah oknum lewat media sosial.

Salah satunya adalah pemalsuan foto dirinya yang disandingkan dengan tokoh PKI, DN Aidit.

Jokowi menyebut, hal semacam itu sering kali terjadi walaupun tidak logis dan terkesan sangat dipaksakan.

“Di media sosial, foto saya dijejerkan dengan DN Aidit pidato. Pidatonya tahun 1955. (Sementara) saya lahir 1961,” ujar Jokowi, di Ponpes Al-Karimiyah, Sumenep, Jawa Timur, Minggu (8/10).

Menurut Jokowi, fotonya bersama pemimpin senior PKI ini sempat viral di dunia maya. Sayangnya, banyak pengguna sosial media yang mempercayai hal itu meskipun tak masuk akal.

“Yang saya heran kok ada yang percaya. Logikanya kan enggak masuk,” ucapnya.

Foto hoax tentang Jokowi dan tokoh PKI DN Aidit

Foto hoax tentang Jokowi dan tokoh PKI DN Aidit

Selain isu tentang foto tersebut, Jokowi juga menyebut bahwa berita hoax terkait PKI menjurus kepada orangtuanya.

Selain soal PKI dan komunisme, kata Jokowi, ia juga menjadi korban hoax melalui isu “antek asing dan antek aseng”, hingga isu diktator karena mengeluarkan Perppu Ormas dan berujung membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Oleh sebab itu, ia meminta seluruh masyarakat berhati-hati ketika menerima informasi dari media sosial. Terlebih, jelang Pemilu 2019.

Kendati demikian, Jokowi meyakini banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial justru akan membuat masyarakat Indonesia semakin pintar dan matang dalam menerima informasi.

“Medsos gudang fitnah, berita bohong. Jangan baca langsung emosi, padahal tulisan enggak jelas. Akun palsu itu banyak sekali,” ungkap mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Baca juga: MUI: Sebar Hoax dan Fitnah di Medsos Hukumnya Haram!

Dalam Kunjungan Kerja Jokowi ke Jawa Timur kali ini, Jokowi mengagendakan kedatangannya di tiga pondok pesantren di Kabupaten Sumenep. Yakni, Ponpes Annuqoyah Guluk-Guluk, Ponpes Al-Amin di Kecamatan Pragaan, dan Ponpes Al-Karimiyah.

Seperti biasa, pada tiap kunjungan kerjanya Presiden membagikan sepeda dengan terlebih dahulu memberi soal kepada hadirin yang maju ke panggung. Hal itu ia lakukan saat berinteraksi dengan ulama dan santri di Pondok Pesantren Annuqayyah, Sumenep.

Muhammad Thoriq Syakhrodi, salah satu hadirin dari Ponpes Darussalam Pamekasan, diberi kesempatan maju ke panggung oleh Jokowi. Thoriq diminta menyebutkan tujuh suku di Indonesia.

Jokowi pun sejenak bercanda dengan Thoriq. Menurutnya, banyak orang yang berminat untuk maju ke panggung dan menjawab pertanyaan untuk mendapatkan sepeda darinya. Namun, itu bukan karena karena harga sepedanya. Hal itu disebabkan adanya tulisan “hadiah dari Presiden” pada sepeda itu.

“Pak Kyai jauh-jauh dari Pamekasan, kelihatannya juga ingin sepeda,” Jokowi berseloroh, dan disambut tawa ulama dan santri di sana.

Thoriq pun tertawa mendengar hal itu. Ia mulai menyebutkan suku-suku di Indonesia satu persatu hingga diganjar sepeda oleh Jokowi.

 

Artikel Lain