Hukum

OTT KPK, Aditya Suap Hakim untuk Bebaskan Ibunya

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif
Wakil Ketua KPK Laode M Syarif

KPK membeberkan motif dugaan suap yang dilakukan anggota DPR Fraksi Golkar Aditya Moha ke Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono. Aditya mengaku melakukan itu untuk menyelamatkan ibunya dari vonis 5 tahun yang sudah diketok Pengadilan Negeri (PN) Manado.

“Jumat 6 Oktober kami menerima informasi dugaan suap terhadap hakim tinggi Sulut terhadap putusan banding perkara Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa kabupaten Bolaang Mongondow,” tutur Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam jumpa pers di Gedung Merah Putih, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Sabtu (7/10/2017).

Baca: Hakim dan Politikus Golkar Kena Ciduk KPK, Sejumlah Uang Asing Diamankan

Ibu Aditya, Marlina Moha, telah divonis 5 tahun di PN Manado bulan Juli 2017 lalu. Suap yang diberikan oleh Aditya ke Sudiwardono dimaksudkan untuk mengamankan putusan banding atas vonis tersebut.

“Diduga pemberian uang terkait dengan penanganan perkara banding dengan terdakwa Marlina Moha Siahaan, Bupati Bolaang Mongondow 2011-2016 dan 2006-2011 untuk mempenaruhi putusan banding dalam perkara tersebut, serta agar penahanan terhadap terdakwa tidak dilakukan,” ujar Laode.

Baca: Aditya Moha, Anggota DPR Muda Golkar yang Sarat Prestasi Tapi Kena Cokok KPK

Adapun Sudiwardono adalah pejabat Pengadilan Tinggi Sulut sekaligus majelis banding perkara tersebut.

Kode ‘Pengajian’

Selain itu KPK juga mengungkap fakta adanya kode yang digunakan Aditya dan Sudiwardono untuk janjian bertemu.

“Mereka menggunakan kode, mohon maaf, pengajian. Jadi kodenya pengajian kapan, tempat di mana. Ini jarang juga digunakan,” kata Laode.

Laode mengatakan Aditya menjanjikan 100 ribu SGD kepada Sudiwardono untuk mengamankan putusan banding terhadap vonis 5 tahun penjara yang dijatuhkan Pengadilan Negeri (PN) Manado kepada ibunya.

Aditya ditangkap bersama Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono oleh KPK di Jakarta, Jumat (6/10) kemarin malam. Keduanya ditangkap di sebuah hotel di daerah Pecenongan, Jakarta Pusat.

Selain mereka berdua, ada juga tiga orang lainnya yang ikut terjaring OTT namun mereka tak menjadi tersangka.

 

Artikel Lain