Dunia, Hukum

Survei: Negara Mayoritas Muslim Lebih Parah Korupsinya Dibanding Negara “Kafir”

Data dari lembaga Transparency International tahun ini menunjukkan bahwa 57 negara mayoritas muslim lebih parah korupsinya dibandingkan negara-negara Barat atau non-muslim. Manurut data tersebut, praktik korupsi di negara-negara muslim lebih bersifat endemik atau mewabah.

Negara mayoritas muslim tersebar di Asia, Afrika, hingga Timur Tengah. Meskipun masyarakat muslim memiliki ajaran luhur seperti salat, puasa, zakat dan pergi haji, membaca Alquran serta menjalankan sunnah Nabi, tapi justru komunitas muslim di dunia dikenal sebagai yang paling korup.

Praktik korupsi yang terjadi di negara-negara muslim meliputi penyuapan, pencucian uang, meraih keuntungan lewat nepotisme, mencuri uang rakyat, dan sebagainya. Praktik-praktik tersebut kerap terjadi dilakukan oleh pejabat negara, pengusaha, partai politik, imam atau ulama, hingga rakyat biasa.

Dilansir dari laman Huffington Post minggu lalu, dari 176 negara yang disurvei soal korupsi, sepuluh negara dengan praktik korupsi terburuk terjadi di negara mayoritas muslim seperti Irak, Somalia, Afganistan, Libya, Suriah, dan Yaman.

Orang boleh saja menganggap bahwa negara-negara tersebut parah tingkat korupsinya lantaran konflik atau perang. Tentu saja kondisi perang memang bisa membuat orang mengalami kematian, kelaparan, sakit, dan depresi. Apa pun dilakukan untuk bertahan hidup, termasuk korupsi.

Tapi pada kenyataannya korupsi juga terjadi di negara muslim yang tidak sedang mengalami konflik atau perang. Indonesia, Pakistan, Bangladesh, yang penduduk muslimnya secara total mencakup 30 persen dari umat Islam sedunia, termasuk parah korupsinya.

Indonesia berada di peringkat 90, Pakistan 116, dan Bangladesh 145.

Bahkan Mesir yang dikenal sebagai negara rujukan hukum Islam dengan Al-Azharnya, masih lebih korup ketimbang Indonesia, yaitu di peringkat 108. Nigeria, negara muslim di Afrika berada di urutan 136 bersama Libanon dan Kyrgyzstan yang juga mayoritas muslim.

Iran yang menjadikan Islam sebagai bagian dari revolusi sosial dan ekonomi berada di peringkat 131, sementara rival utamanya, Israel ada di urutan 28.

Saat ini, selain Denmark dan Swedia, negara yang indeks korupsinya rendah alias bersih dari korupsi mayoritas berada di Negara Barat. Inggris, Belanda, France, masing-masing berada di urutan 10, 8, dan 23. Australia dan Selandia Baru, jauh dari Eropa, masuk di peringkat 20 besar negara yang minim korupsinya.

Sebagian warga muslim meyakini yang namanya korupsi adalah warisan dari penjajahan negara Barat terhadap mereka. Namun kini negara muslim harusnya bisa menjawab pertanyaan sederhana: mengapa negara kolonial macam Inggris, Belanda, Prancis sudah bisa mengikis korupsi sementara di negara muslim yang sudah merdeka dari penjajahan praktik korupsi masih merajalela?

Sejujurnya, warga muslim seharusnya mengakui, dalam perkara korupsi, ajaran Islam yang sebenarnya justru malah dipraktikkan di negara-negara Barat yang peringkat korupsinya lebih baik, seperti di Swedia dan Denmark.

 

PANDASURYA WIJAYA/MERDEKA

You Might Also Like