Hukum

Rayakan OTT Wali Kota Tegal oleh KPK, dari Sujud Syukur hingga Potong Tumpeng

Warga Kota Tegal gelar syukuran atas tertangkapnya Wali Kota Siti Masitha. (Foto: Imam Suripto/detikcom)
Warga Kota Tegal gelar syukuran atas tertangkapnya Wali Kota Siti Masitha. (Foto: Imam Suripto/detikcom)

Wali Kota Tegal Kena OTT KPK, PNS Setempat Sujud Syukur

Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Selasa (29/8/2017) sekitar pukul 17.30 WIB. Anehnya, kejadian tersebut justru disambut gembira oleh pegawai negeri sipil (PNS) setempat, yang kemudian melakukan sujud syukur beberapa jam setelahnya.

Tidak hanya PNS yang melakukan sujud syukur, namun puluhan warga yang berkumpul di Balai Kota Tegal malam itu.

Menurut Khaerul Huda, mantan PNS Kota Tegal, sujud syukur ini dilakukan secara spontanitas. Bersama 12 rekannya, Khaerul mengaku pernah menjadi korban kesewenang-wenangan Siti Masitha selama memimpin Kota Tegal.

Dia dan rekannya di-nonjob-kan oleh Wali Kota Tegal akibat mengkritisi kebijakan pemerintah.

“Sejak awal kami telah kritisi Wali Kota karena dianggap tidak benar dalam tata kelola pemerintahan. Tapi, karena dia wali kota, kritik kami dibalas dengan nonjob,” tutur Khaerul huda.

PNS melakukan sujud syukur atas tertangkapnya Wali Kota Siti Masitha. (Imam Suripto/detikcom)

Ketiga belas orang yang di-nonjob-kan itu kemudian melakukan upaya hukum dengan menggugat di PTUN. Hasilnya, PTUN mengharuskan Wali Kota mengembalikan jabatan kepada PNS kepada mereka.

“Jarang ada wali kota yang melakukan banding hingga PK. Alhamdulillah, kami menang, tapi tetap saja Wali Kota tidak mengembalikan jabatan kami,” tuturnya.

Potong Tumpeng

Tertangkapnya sang Wali Kota juga disyukuri betul oleh warga Tegal. Pada Kamis (31/8/2017) malam, puluhan warga Kota Tegal, Jawa Tengah,  menggelar acara syukuran potong tumpeng atas kejadian tersebut.

Acara syukuran digelar di depan pintu gerbang Balai Kota di Jalan Ki Gede Sebayu, Kelurahan Mangkukusuman, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.

Ada sekitar 25 orang yang menghadiri acara syukuran itu. Selain itu, hadir pula sejumlah anggota DPRD Kota Tegal, tokoh organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan beberapa perwakilan PNS.

Khaerul Huda yang menjadi perwakilan PNS nonjob mengatakan, acara ini sebagai simbol rasa syukur atas keberhasilan operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Wali Kota Tegal Siti Masitha.

“Meski sebenarnya tidak pas, masa pemimpinnya ditangkap kok malah menggelar syukuran. Namun ini membuktikan selama memimpin, Wali Kota tidak bisa menjalankan pemerintahan,” ucap Khaerul.

Warga Kota Tegal gelar syukuran atas tertangkapnya Wali Kota Siti Masitha.

Warga Kota Tegal gelar syukuran atas tertangkapnya Wali Kota Siti Masitha. (Foto: Imam Suripto/detikcom)

Acara tersebut sengaja digelar di depan gerbang, dengan alasan sebagai simbol untuk menangkal hal-hal buruk pada pemerintahan yang akan datang.

Hal senada dikatakan Sisdiono Ahmad, anggota DPRD dari Partai Gerindra. Menurutnya perjuangan rakyat saat ini baru sebatas pintu gerbang dan masih ada tugas-tugas lain selanjutnya.

“Tugas yang perlu kita lakukan yakni untuk membenahi birokrasi yang selama dipimpin oleh Wali Kota Tegal banyak ditemukan ketimpangan. Karena itu sudah menjadi tugas kita bersama untuk mengawal proses tersebut,” terangnya.

Warga Kota Tegal gelar syukuran atas tertangkapnya Wali Kota Siti Masitha. (Foto: Imam Suripto/detikcom)

Warga Kota Tegal gelar syukuran atas tertangkapnya Wali Kota Siti Masitha. (Foto: Imam Suripto/detikcom)

Kronologi OTT

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Wali Kota Tegal, Siti Masitha Soeparno pada Selasa (29/8/2017) sekitar pukul 17.30 WIB.

Menurut penuturan salah seorang petugas Satpol PP Kota Tegal, Mufid, Masitha dibawa ke mobil usai memberikan pemaparan dan evaluasi triwulanan pembangunan di gedung Adipura di kompleks Balai Kota Tegal.

“Saat pemaparan, ada orang yang mengatakan dari petugas KPK mau menerobos masuk ke dalam ruangan. Saat itu, yang jaga saya,” kata Mufid.

Ia pun mencoba melarang petugas KPK untuk masuk dengan alasan wali kota sedang melakukan pemaparan. Namun para petugas itu bersikeras dengan alasan tugas negara. Bahkan mengancam akan mendobrak pintu.

Mufid tetap berusaha menghalangi petugas KPK yang berjumlah sekitar delapan orang itu. Hingga akhirnya para petugas KPK mau menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan dan mau menunggu hingga rapat selesai.

Usai memberikan pemaparan, Masitha muncul dari ruangan. Selanjutnya, Masitha masuk ke dalam rumah dinas yang berada di sebelah gedung Adipura.

“Petugas itu mengikutinya ke dalam rumah dinas. Setelah itu, Bu Wali keluar dengan diikuti petugas tersebut. Handphone Bu Wali juga dibawa,” kata Mufid.

Ia menyaksikan delapan petugas KPK itu menggunakan dua mobil, yaitu Honda Jazz dan Toyota Kijang Innova.
Ada logo Pancasila warna emas di kaca mobil tersebut.

Selain Masitha, Wakil Direktur Keuangan RSUD Kardinah, Cahyo Supriadi, juga turut diamankan dalam OTT KPK itu.

Suasana rumah dinas Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno setelah penangkapan oleh KPK, Selasa (29/8/2017) malam.

Suasana rumah dinas Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno setelah penangkapan oleh KPK, Selasa (29/8/2017) malam.

Birokrasi amburadul

Pemerintahan kota Tegal di bawah Wali Kota Siti Masitha memang terkenal amburadul.

Bahkan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo pun mengakui hal tersebut.

Malah, Ganjar sempat mengaku enggan datang ke Kota Tegal sebab kondisi birokrasi yang tidak sesuai prosedur selama dipimpin oleh Siti Masitha. Ganjar mengaku sejak Siti Masitha dilantik sebagai Wali Kota, ia tidak pernah bertandang ke kota Tegal.

“Bapak Ibu sekalian, saya bisa rindu hadir di Kota Tegal dari dulu. Tapi saya tidak bisa datang karena birokrasinya morat marit,” tutur Ganjar di hadapan para pejabat Pemkot Tegal usai menyerahkan SK Plt Wali Kota Tegal di ruang Adipura kompleks Balai Kota Tegal, Kamis (31/8/2017).

“Memang di sini (Kota Tegal) saya tidak mengerti, bagaimana sebuah pemerintahan sejak dilantik sampai mau pilkada lagi, ada pejabatnya yang masih Plt. Menurut saya itu tidak sehat. Makanya harus dibenahi. Termasuk mereka yang menuntut di pengadilan dan sudah menang harus segera dikembalikan ke posisi semula,” paparnya.

“Ayo semua bersumpah sesuai agama masing-masing dan ikuti omongan saya. Saya tidak akan melakukan korupsi, menerima pemberian apapun, dan tidak akan melakukan praktik jual beli jabatan. Terakhir, mulai hari ini akan melayani masyarakat dengan responsif dan terbuka,” kata Ganjar di hadapan pejabat yang hadir.

 

You Might Also Like