Hukum

Korupsi E-KTP, Marzuki Alie: Sumpah Mati, Sumpah Pocong, Sumpah Mubahalah…

Marzuki Alie
Marzuki Alie

JURNALPOLITIKCOM – Ketua DPR RI periode 2009-2014 Marzuki Alie membantah telah ikut mendapat ‘jatah’ dari aliran dana haram korupsi e-KTP seperti yang disebutkan terdakwa kasus korupsi e-KTP, Irman dan Sugiharto, sebelumnya.

Selain itu, Marzuki juga membantah dirinya marah karena menerima bagian yang sedikit dari hasil korupsi proyek e-KTP.

“Saya tanya, Pak Irman dan Sugiharto itu dapat info dari Andi (Narogong) kan? Itu kata siapa, kata Andi kan? Kata Andi Narogong kan? Maksudnya gini, seolah saya ngomong sama Irman, seolah saya ngomong sama Sugiharto. Irman dan Suugiharto itu saya enggak kenal,” kata Marzuki saat dihubungi, Selasa (13/6/2017).

“Dan tidak ada kalimatnya saya ngomong sama dia (Irman dan Sugiharto) kan? Itu kata Andi. Dalam kalimatnya kan begitu. Tapi sayangnya di berita media saya ngomong marah sama Irman, Irman bilang begitu seolah kan,” lanjut Marzuki.

Marzuki juga mengaku tidak pernah kenal apalagi bertemu dengan yang namanya Andi Narogong.

Bahkan ia sering salah ucap menyebut nama Andi sebab tak pernah mengenal dan bertemu. Ia mengaku mengetahui nama Andi sejak mencuatnya kasus e-KTP.

Oleh sebab itu, ia sangat menyesalkan Irman dan Sugiharto yang telah menuduhnya menerima uang. Politikus Partai Demokrat itu siap bersumpah untuk membuktikan bahwa dirinya tak pernah bertemu Irman, Sugiharto, dan Andi.

“Kalau kami pernah bertemu saya bersumpah deh. Sumpah apa aja namanya. Sumpah mati, sumpah pocong, sumpah mubahalah kek. Begitu teganya ya ngomong saya nerima uang (korupsi e-KTP), saya marah, begitu teganya,” kata Marzuki.

“Coba kalau dia diomongin orang lain begitu kira-kira perasannya gimana? Keluarga dia gimana? Kawan-kawan dia gimana?” lanjut Marzuki.

Sebelumnya, dua terdakwa kasus e-KTP, Irman dan Sugiharto, mengaku pernah mendapat informasi bahwa Marzuki Alie, yang saat itu menjabat Ketua DPR marah-marah. Mereka menyebut Marzuki emosi sebab uang yang diterima tak sesuai yang diinginkan.

Hal itu dikatakan keduanya saat memberikan keterangan sebagai terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (12/6/2017).

“Marah mungkin karena merasa bagiannya tidak sesuai,” kata Irman kepada jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Artikel Lain