Pemilu, Pilkada

Anies Minta Warga Jakarta untuk Sementara Tidak Buka Medsos, Ini Alasannya

Anies Baswedan
Anies Baswedan (Foto: Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman)

Jurnalpolitik.com – Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan mengimbau warga DKI untuk tidak membuka media sosial selama beberapa hari ke depan agar situasi kembali tenang dan proses rekonsiliasi usai Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta segera terwujud.

“Jangan sampai ketegangan di media sosial menjadi ketegangan di luar. Enggak usah lihat timeline dulu deh dua hari tiga hari. Nanti juga akan tenang,” kata Anies di Kota Bambu, Palmerah, Jakarta Barat (28/4/2017).

Menurut Anies, rekonsiliasi merupakan salah satu fokus pekerjaan yang akan ia lakukan bersama wakilnya, Sandiaga Uno usai Pilkada DKI ini. Rekonsiliasi, kata Anies, penting untuk menyatukan kembali warga DKI.

Pria kelahiran 7 Mei 1969 itu juga mengaku telah menemui sejumlah pihak dalam rangka rekonsiliasi ini.

Meski demikian, Anies mafhum, terpecahnya masyarakat akibat pemilu tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tapi juga di seluruh dunia.

“Polarisasi ada di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia saja. Kalau anda perhatikan pilpres di Amerika itu selesai bulan November, tapi panasnya sampai sekarang,” kata dia.

Anies pun berpendapat, proses rekonsiliasi memerlukan waktu yang panjang.

“Pelan-pelan. Yang penting masing-masing pihak saling menjaga. Terutama dalam kehidupan sehari-hari,” ujar dia.

Salah satu yang dilakukan Anies dalam menyatukan kembali warga DKI adalah menemui Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota Jakarta sehari setelah Pilkada putaran kedua. Di pertemuan tersebut, keduanya berkomitmen untuk menciptakan rekonsiliasi di Jakarta, selain membahas soal penyelarasan program dan anggaran.

Sedangkan sang calon Wakil Gubernur Sandiaga pun sudah bertemu dengan Djarot Saeful Hidayat di Restoran Meradelima pada Rabu (26/4/2017) lalu. Pertemuan tersebut, menurut Sandiaga, berkaitan dengan upaya rekonsiliasi pasca Pilkada DKI Jakarta.

Pertemuan-pertemuan tersebut hingga kini belum menampakkan hasil yang cukup berarti. Terbukti ketegangan di media sosial masih saja berlanjut. Masing-masing pendukung kedua kubu masih kerap saling berpolemik.

Bahkan pakar ilmu politik FISIP UIN Jakarta Robi Sugara menilai ketegangan di media sosial lebih susah diselesaikan dibandingkan di dunia nyata. Akun anonim, menurut dia, memiliki peran vital dalam memanaskan suasana.

“Ya itu kan banyak akun buzzer anonim. Itu yang bahaya,” kata Robi.

Robi pun mengimbau agar kedua tim pemenangan, Anies-Sandiaga dan Ahok-Djarot, membuat kesepakatan untuk saling membagi konten positif agar ketegangan di media sosial bisa segera reda.

“Mereka kan punya tim medsos. Bisa lah itu yang dibagikan konten positif (pereda polemik),” ujar dia.

 

Artikel Lain