Hankam

Aksi 212, Sampai Kapankah Kita Bisa Toleran pada Orang-orang Seperti Ini?

Aksi unjuk rasa FPI Senin, 16/1/2016

Tampaknya aparat keamanan serius sekali menyikapi Aksi 212 yang kabarnya akan dilakukan besok. Tampak aparat gabungan akan berjaga.

Kita bisa merasakan suasana serius itu. Resikonya besar. Aksi ini rencananya akan dilangsungkan di Gedung DPR. Saya dengar beberapa anggota DPR, yang secara oportunistik hendak menangguk keuntungan politik, sudah bermanuver dan mempersilahkan massa yang dikoordinir oleh FUI (Forum Umat Islam) ini untuk masuk ke kompleks DPR.

Baca:

Fadli Zon Menerima Kunjungan Delegasi FUI Jelang Aksi 212 Jilid II

Fadli Zon Menerima Kunjungan Delegasi FUI Jelang Aksi 212 Jilid II

Mengapa ini soal serius? Bukankah DPR adalah ‘rumah rakyat’ yang siapa saja boleh datang?

Betul. Tapi disini ada konteks lain. Bayangkan bila ada satu dua sniper (penembak jitu) yang menembak peserta aksi. Atau satu dua penyusup yang membikin provokasi hingga aparat keamanan terpaksa menembak. Bisa dibayangkan apa yang terjadi?

Saya kira, kelompok ini sudah diberikan toleransi yang sangat berlebihan. Mereka sudah punya banyak kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Mereka sudah diberi kesempatan memobilisasi demikian banyak massa pada bulan November dan Desember tahun lalu. Bahkan hanya beberapa hari sebelum pemilihan mereka masih diberi kesempatan untuk ‘berkampanye’ walaupun dikamuflase sebagai ‘doa.’

Baca: Tengku Zulkarnain: Kalau Tuntutan Tak Dipenuhi, Kami Nginap di Gedung DPR

Namun ketika pemilihan dilakukan, rakyat pemilih Jakarta berkata lain. Hasil pemilihan secara tidak langsung mengatakan bahwa mereka tidak setuju dan tidak sependapat dengan kelompok ini. Sekalipun kelompok-kelompok ini sudah melakukan tekanan sangat hebat dengan demonstrasi besar-besaran. Namun, rakyat Jakarta sudah punya pendapat dan memutuskan lain.

Ini sangat membingungkan. Mengapa kelompok ini seakan memiliki hak-hak istimewa, dengan bebas mengadakan demo-demo, yang tidak saja mengganggu dan membuang-buang waktu, namun juga memakan beaya dan beresiko sangat tinggi?

Apa sesungguhnya legitimasi dari kelompok ini? Mereka mengatakan bahwa mereka mewakili kepentingan “umat Islam.” Ini jelas sebuah manipulasi besar-besaran karena semua orang tahu mereka mewakili kepentingan diri dan kelompok mereka sendiri.

Orang-orang seperti ini hanya mau menang sendiri. Mereka sangat egoistik. Ketika proses demokratis bersuara tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, mereka memaksakan kehendak. Ketika hukum tidak memutuskan sesuai dengan keinginan mereka, maka mereka ngamuk dan mau main hakim sendiri.

Baca: Aksi 212, Peserta Ancam “Lempar Jumroh” Gedung DPR Jika Tuntutan Tak Dipenuhi

Orang-orang seperti ini akan bicara tentang hak-hak asasi hanya ketika menguntungkan diri mereka. Untuk mereka demokrasi hanya berlaku jika ia mengabdi keinginan dan kepentingan mereka.

Ironi dari demokrasi adalah ia mengijinkan musuh-musuhnya untuk terlibat di dalamnya. Demokrasi memang menjamin hak bicara dan berekspresi orang-orang yang bahkan tidak setuju pada demokrasi itu sendiri.

Namun, sampai kapankah kita bisa toleran pada orang-orang seperti ini? Anehnya, kita melihat politisi-politisi oportunis juga ikut memfasilitasi hal-hal seperti ini. Mereka memberaki proses yang menaikkan mereka ke dalam kekuasaan. Oportunisme adalah proses yang korup dan akan menjadi bertambah korup ketika diberi kekuasaan.

 

Oleh: Made Supriatma

Artikel Lain