Pemilu, Pilkada

Anis Baswedan: Kemiskinan Paling Ekstrem Ada di Jakarta

Anies Baswedan
Anies Baswedan (Foto: Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman)

Jurnalpolitik.com – Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pernah mendatangi Pulau Selaru yang berbatasan langsung dengan Australia. Listrik belum masuk. Kehidupan di sana begitu sulit karena warganya sangat miskin. Namun mereka masih lebih beruntung. Kemiskinan paling ekstrem menurut Anies justru ada di Ibu Kota Negara, Jakarta.

Meskipun warganya miskin, tetapi Warga Pulau Selaru memiliki sumber daya alam yang melimpah. Toleransi, kebersamaan dan gotong royong warganya juga masih sangat tinggi. Mereka miskin tetapi kondisi lingkungan juga masih sehat. Hal ini berbeda dengan potret warga miskin di Ibu Kota.

“Ketika saya menjadi calon gubernur saya mengunjungi tempat-tempat di Jakarta dan menemukan sisi kemiskinan. Jauh lebih ekstrem yang lebih saya lihat (Pulau Selaru). Di sana (Pulau Selaru) kemiskinan tapi bersih, lautan penuh dengan ikan. Di sini kemiskinan dalam polusi, kemiskinan dalam ketidakpastian dan perasaan bahwa kami sendiri dan enggak ada yang bantu. Ini adalah sisi lain Jakarta. Kemiskinan ekstrem ada di sini,” ujar Anies Selasa (3/1/2017) lalu di ruang redaksi merdeka.com.

Kemiskinan yang melanda warga Ibu Kota menurut Anies juga terstruktur. Namun sayang arah pembangunan Jakarta selama ini tidak pernah menyentuh para warga miskin.

“Selama ini kita memikirkan benda mati Jakarta. Tapi warga Jakarta sebagai sebuah kota, perhatian tidak. Kami fokus membangun infrastruktur dan manusianya dan akses pada pekerjaan dan pendidikan. Kalau Jakarta mau maju, pendidikan harus maju,” ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Mantan Rektor Paramadina ini juga menegaskan pentingnya sebuah pendidikan. Pendidikan bagi Anies adalah eskalator masal yang akan menaikkan status sosial seseorang.

Masalah lain yang juga disinggung Anies adalah buruknya manajemen transportasi di Ibu Kota. Anies pun setuju dengan program transportasi massal untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Lalu bedanya dengan calon yang lain apa konsepnya?

“Kita arahnya penggunaan transportasi massal yang nyaman, tapi yang penting rutenya. Ketika kita cek rutenya Metro Mini dan Kopaja itu dari tahun dulu ternyata masih sama. Jadi penduduk Jakarta mengalami perubahan tetapi rute tidak. Seakan-akan Jakarta cuma di situ situ. Rute agar mencerminkan yang intensif,” ujarnya. (hhw/merdeka.com)

Tuliskan Pendapat Anda

Powered by Facebook Comments

You Might Also Like