Dunia

Mantan Terang-terangan Serukan Demo Besar-besaran Minggu Ini

Ratusan ribu orang melakukan aksi unjuk rasa di Kuala Lumpur menuntut PM Najib Razak mundur dari jabatannya.
Ratusan ribu orang melakukan aksi unjuk rasa di Kuala Lumpur menuntut PM Najib Razak mundur dari jabatannya.

Jurnalpolitik.com – Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad menyerukan warga untuk ikut aksi unjuk rasa besar-besaran pada akhir pekan ini. Unjuk rasa itu bertujuan untuk mendesak Perdana Menteri Najib Razak agar bersedia mengundurkan diri, terkait skandal korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Rencana unjuk rasa itu memicu kekhawatiran terjadinya bentrokan antara demonstran dengan masa pendukung Najib. PM Najib yang mengincar pemilu awal tahun depan, memicu kemarahan publik atas keterlibatannya dalam skandal keuangan 1MDB yang melibatkan aliran dana miliaran dolar AS.

PM Najib juga disebut memanfaatkan langkah-langkah keras untuk membungkam berbagai kritikan dan kecaman publik terhadapnya. Kelompok reformasi pemilu bernama Bersih, yang akan menggelar unjuk rasa pada Sabtu (19/11) mendatang, sejak lama menyerukan PM Najib untuk mundur.

Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad

Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad

Dalam rekaman video yang diposting secara online, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (16/11/2016), Mahathir yang mengenakan kaos warna kuning ciri khas kelompok Bersih, menyebut Malaysia sedang dalam keadaan ‘panik’.

“Saya harap seluruh rakyat Malaysia ikut serta dalam demonstrasi oleh Bersih ini, yang bertujuan mencari cara untuk memperbaiki negara ini,” ucap Mahathir dalam video itu.

Mahathir yang merupakan PM Malaysia yang paling lama menjabat ini, keluar dari United Malays National Organisation (UMNO) yang dipimpin PM Najib pada Februari lalu. Mahathir kemudian membentuk partai politik baru untuk melengserkan PM Najib.

Kembali pada rencana unjuk rasa, muncul kekhawatiran besar bahwa bentrokan parah akan terjadi antara demonstran Bersih dengan kelompok pro-pemerintah. Ketua kelompok Bersih, Maria Chin Abdullah, dilaporkan menerima berbagai ancaman pembunuhan secara anonim.

“Kita tidak bisa berhenti karena jika kita berhenti dan kita tidak menggelar aksi protes, maka kita tidak bisa mempengaruhi apapun dalam legislasi, kebijakan maupun hukum,” ucap Maria.

Tahun lalu, kelompok Bersih juga menggelar unjuk rasa besar-besaran. Warga etnis minoritas India dan China banyak ikut serta dalam aksi protes tahun lalu, yang dilaporkan diikuti sekitar 200 ribu orang. Sebelum menggelar aksi pada Sabtu (19/11) mendatang, kelompok Bersih telah menggelar kampanye bertahap selama 6 minggu terakhir di berbagai wilayah Malaysia.

Tuliskan Pendapat Anda

Powered by Facebook Comments

Lainnya