Dunia

Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Tolak Donald Trump jadi Presiden

Protes anti-Trump di Seattle

Jurnalpolitik.com – Pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden baru Amerika Serikat (AS), ribuan warga AS turun ke jalan sebeagai bentuk penentangan.

Seraya berteriak “Donald Trump bukan presiden kami!”, para demonstran membanjiri jalanan kota-kota di penjuru AS, Rabu (9/11/2016).

Seperti yang terlihat di New York, Massa berkumpul di Union Square sambil memegang spanduk bertuliskan “Love Trumps Hate” dan “Trump Grabbed America by the Pussy!”.

Jalan Manhattan dipadati ribuan demonstran yang bergerak ke arah Trump Tower, kediaman Donald Trump di New York dan meneriakkan yel-yel di sana.

Demonstrasi juga terjadi di California, di mana sekitar enam ribu orang melakukan blokade di jalanan Oklahoma.

“Tolak Trump! Tolak KKK! Tolak rasisme di AS!,” teriak para demonstran di sana.

Aksi anarkis bahkan sempat terjadi, ketika demonstran mulai melempari polisi, membakar ban, menyalakan petasan, dan melakukan vandalisme.

Di Los Angeles, lebih dari lima ribu orang, yang sebagian besar adalah pelajar SMA dan perguruan tinggi, memblokade jalanan.

Trump International Hotel di Washington DC juga menjadi sasaran amarah pendemo, yang berteriak “Hei, hei, Donald Trump harus pergi!”.

Mereka memprotes hasil pemilihan presiden yang memenangkan kandidat dari Partai Republik itu, Selasa (8/11/2016).

Demonstrasi Anti-Trump di Seattle

Demonstrasi Anti-Trump di Seattle (Foto: CNN.com)

Yang menjadi fokus protes adalah kampanye-kampanye Donald Trump yang sarat diskriminasi atas imigran, muslim, dan kaum minoritas lain.

Skandal-skandal pelecehan terhadap perempuan yang sempat menjerat Donald Trump semasa pilpres juga dijadikan alasan bagi mereka untuk menolak Donald Trump menjadi presiden AS.

“Kami sangat marah atas semua ini, jadi kami turun ke jalan,” kata seorang pendemo, Omar Aqeel, di Brooklyn, New York.

Protes bahkan sampai ke media sosial, di mana netizen meramaikan tagar topik #NotMyPresident (Bukan Presiden Kami).

Demonstrasi Anti-Trump di New York

Demonstrasi Anti-Trump di New York (Foto: CNN.com)

Sementara itu di Washington, demonstran berkumpul di depan Gedung Putih dengan membawa poster bertuliskan “Kami memiliki suara!” dan “Pendidikan untuk semua!”.

Mereka berkumpul menyalakan lilin di tengah dingin malam, sambil melontarkan kritikan.

Mereka mengangkat isu yang disebut “Trump rasisme, seksisme dan xenophobia”.

Demonstrasi Anti-Trump di Washington DC

Demonstrasi Anti-Trump di Washington DC (Foto: CNN.com)

Salah satu warga penyelenggara aksi, Ben Wikler, yang adalah direktur lembaga advokasi liberal MoveOn.org, berbicara di tengah keramaian massa.

Dia menyebut, banyak warga lain di seluruh AS dari beragam komunitas menyuarakan hal yang sama.

“Warga merasa ketakutan,” kata dia. “Kami berdiri di sini untuk menunjukkan bahwa di tengah momen kelam yang melanda AS, kita tidak sendiri.”

Sementara itu, Ethan Miller, seorang pekerja di bidang hak asasi manusia, mengatakan dengan aksi ini ingin menunjukkan bahwa komunitas di AS sangat lentur.

“Ini hari yang berat bagi sebagian besar warga AS,” ungkap dia kepada AFP. “Kami telah menyaksikan sebuah kampanye yang menebar isu rasial dan segala taktik mengerikan lain, yang akhirnya membuat dia memenangi pemilu.”

“Namun,” lanjut Miller, “kami tak akan membiarkan jabatan Presiden yang dipegang Donald Trump menghentikan kemajuan untuk bangsa ini.”

“Kami akan melanjutkan gerakan dan melawan demi hak seluruh warga dan melindungi saudara-saudara kami,” cetusnya.

Ada pula Joanne Paradis. Wanita berusia 31 tahun itu lahir di Meksiko. Dia kini bekerja di sebuah organisasi non-profit bidang komunikasi internasional di Washington.

Paradis mengaku mengambil bagian dalam aksi ini untuk berbagi solidaritas.

“Saya sangat terpukul. Saya tak tahu akan seperti apa negara ini di bawah Trump,” kata dia. “Namun, kita harus menghadapi kenyataan itu, memperjuangkan, dan bersabar dengan ini.”

Aksi serupa pun dilaporkan terjadi di sejumlah kota di penjuru AS, seperti Chicago, Philadelphia, Portland, Oregon, dan Seattle.

Demonstrasi Anti-Trump di Boston

Demonstrasi Anti-Trump di Boston (Foto: CNN.com)

“Electoral college ternodai,” kata pendemo, Nicholas Forker, merujuk pada sistem pemilihan “tak langsung” di AS.

“Saya merasa, AS benar-benar memerlukan reformasi. Hasil ini sangat konyol,” kata dia lagi.

Aksi berawal dari ratusan orang, yang kemudian semakin banyak dan menjadi ribuan orang.

Di California, massa pelajar SMA dan mahasiswa menggelar mimbar bebas dan melakukan aksi walkout dari kelas.

Di Los Angeles, ratusan remaja dan kaum dewasa muda menggelar unjuk rasa di luar City Hall sambil menyerukan “Not my president!” untuk Trump.

Di Oregon, pendemo menutup arus lalu lintas dari pusat kota Portland, menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Protes anti-Trump di depan Trump Tower

Protes anti-Trump di depan Trump Tower — kediaman Donald Trump (Foto: CNN.com)

Massa terdiri dari tak kurang 300 orang, demikian diberitakan media setempat.

Jumlah itu termasuk mereka yang melakukan aksi duduk di tengah jalan. Bahkan, ada yang membakar bendera AS.

Belum lagi di Pennsylvania, ratusan mahasiswa University of Pittsburgh melakukan aksi jalan kaki di sepanjang jalan-jalan kota itu sambil mengajak warga untuk bergabung.

Seluruh aksi tersebut berlanjut hingga tengah malam.

Satu orang dilaporkan mengalami luka serius dalam aksi yang berlangsung di Oakland, California, ketika pendemo membobol toko dan membakar sampah.

 

Artikel Lain