Hankam

Ada Indikasi Aksi Teror Bom di Demo 4 November? Ini kata Kapolri

Demo FPI

Jurnalpolitik.com – Aksi demonstrasi yang diperkirakan akan diikuti puluhan ribu massa pada 4 November mendatang terindikasi ada pihak yang menunggangi.

Sebagaimana dilaporkan JPNN, Polri yang telah mendeteksi ancaman itu juga mengerahkan personel dari luar DKI Jakarta untuk mengamankan aksi mengecam pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama itu yang diduga melakukan penistaan agama. Penetapan siaga I juga sudah dikeluarkan.

Ada indikasi kelompok penebar teror ingin memanfaatkan aksi demonstrasi tersebut.

Dari informasi yang beredar menyebutkan, hasil rapat antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan Korps Brimob terdapat sejumlah kejanggalan dalam aksi demonstrasi 4 November.

Yakni, akan terjadi kerusuhan dari Balai Kota hingga Istana Negara.

Kemungkinan perancang aksi berasal dari Sukoharjo, Solo, Klaten dan Jawa Tengah. (Baca: Beredar Kabar Demo 4 November Diwarnai Kerusuhan, Ini Penjelasan Mabes Polri)

Yang mengkhawatirkan, ada informasi bahwa pada pelaku teror sudah menyiapkan rencana aksi dengan bom dan sebagainya.

Bahkan disebutkan, para pelaku telah masuk ke ibukota Jakarta awal pekan ini. (Baca: Habib Rizieq Minta TNI, Polri, Pegawai dan Pelajar Libur untuk Ikut Aksi Demo 4 November)

Indikasi kerusuhan itu makin ditegaskan dengan penebalan personel Brimob.

Sesuai surat telegram nomor STR/779/x/2016 tertanggal 27 Oktober 2016, sebanyak 57 kompi atau 5.700 personil Brimob dikerahkan ke Jakarta. Semua personil itu diwajibkan tiba Sabtu (29/10) dan Minggu (30/10).

Personel Brimob itu berasal dari dari 15 polda. Yakni, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Lampung, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Banten dan Daerah Istimewa Jogjakarta.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, memang ada indikasi provokasi yang dilakukan untuk mengancam ketertiban saat pelaksanaan memberikan pendapat di muka umum pekan depan.

Indikasi itu dapat terbaca dari berbagai komunikasi di media sosial.

Menurut Tito, aksi tersebut bisa menjadi sasaran empuk para oknum tak bertanggung jawab.

Massa yang diperkirakan berjumlah puluhan ribu orang itu, kata Tito, pasti sulit diakomodir dan dikendalikan agar tetap satu gerakan. Dia meminta agar koordinator lapangan demo menjaga aksi tetap damai sesuai koridor hukum.

“Tolong waspadai jangan sampai nanti ada yang ingin mengganggu acara ini. Bisa saja ada penyusup-penyusup yang mengganggu. Kami akan mewaspadai itu,” kata Tito di Markas Komando Korps Brimob Polri, Depok, Senin (31/10).

Dia meminta, agar massa tidak mengganggu ketertiban umum. Penyampaian aspirasi harus mengedepankan etika dan moril. Tidak boleh ada kalimat menghasut atau mencaci maki.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww/15.)

“Yang demo juga harus waspada, jangan sampai mereka yang murni menyampaikan pendapat tapi kemudian ada pihak yang menunggangi mereka. Itu biasa terjadi dimana-mana,” jelas dia.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini menekankan agar massa tetap menyampaikan aspirasinya sesuai hati nurani. Jangan mau diprovokator oleh pihak yang mengingikan demo anarkistis.

“Berikutnya kami minta pendemo untuk mengikuti aturan yang ada dan tidak mudah terprovokasi. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Tetap lakukan aktivitas seperti biasa. Tapi hindari lokasi ada demo, karena bisa macet di sana,” jelas Tito.

Tito menegaskan, bila demonstrasi itu dilakukan dengan anarkis maka kepolisian memiliki prosedur yang harus ditempuh.

”Kalau dilakukan dengan damai, tanpa kekerasan tentu akan kami lindungi. Tidak akan ada kekerasan dari aparat kepolisian,” ujarnya ditemui di Bundaran Hotel Indonesia pasca membuka acara sidang Interpol.

Artikel Lain