Dunia

Korut Ancam Ratakan Washington dan Seoul dengan Nuklir

Parade militer di Pyongyang, Korea Utara, 10 Oktober 2010

Jurnalpolitik.com – Korea Utara mengancam akan meluncurkan serangan nuklir ke Korea Selatan dan Amerika Serikat, dan menghancurkan ibu kota Seoul dan Washington, D.C., menjadi tumpukan debu. Ancaman Korut ini dilontarkan menyusul latihan militer bersama tahunan antara AS dan Korsel awal pekan ini.

Militer Korut menyatakan siap menjadikan Seoul dan Washington “tumpukan debu melalui serangan pencegahan bergaya Korea” jika AS dan Korsel menunjukkan tanda-tanda agresi terhadap wilayah Korut.

Retorika ekstrem dari Pyongyang tersebut semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Semenanjung Korea, di tengah rencana pengerahan sistem rudal pertahanan berteknologi tinggi AS ke Korea Selatan dan pembelotan wakil dubes Korut untuk Inggris, Thae Yong Ho, ke Korsel.

Media pemerintah di Pyongyang memperingatkan “serangan pertama” itu telah siap diarahkan ke pasukan Korsel dan AS ytang tengah menjalani latihan militer, menurut laporan dari The Independent, Senin (22/8).

Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyesalkan ancaman yang diluncurkan Korut dan menyatakan bahwa latihan militer dengan AS merupakan latihan rutin yang terjadwal. Seoul dan Washington kerap menegaskan bahwa latihan militer gabungan tidak bertujuan menyerang Pyongyang.

Latihan militer tahun ini disebut Ulchi Freedom Guardian dan mulai dijalankan sejak Senin selama 12 hari. Sebagian besar latihan militer ini dijalankan melalui simulasi komputer. Latihan ini melibatkan 25 ribu tentara AS dan 50 ribu tentara Korsel.

Presiden Korea Selatan mengatakan pada Senin bahwa terdapat tanda-tanda “keretakan serius” di kelas elite penguasa Korut. Korsel menilai Korut akan melakukan beberapa tindakan kontroversial untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah dalam negeri tersebut.

Sementara itu, para pakar menilai pembelotan Thae merupakan tindakan yang mencoreng nama pemimpin Korut Kim Jong Un, namun tidak mampu untuk melemahkan persatuan kelas elite negara yang terisolasi itu.

Korea Utara kerap meningkatkan retorika perang terhadap AS dan Korsel, utamanya setelah AS mengerahkan sistem pertahanan anti rudal (THAAD) di Korsel bulan lalu. Pengerahan THAAD bertujuan untuk menghalau kemungkinan tembakan rudal balistik dan nuklir dari Korea Utara.

 

Artikel Lain