Dunia

“Penyebab Penembakan Imam di New York karena Retorika Politik Trump”

Imam Shamsi Ali
Imam Shamsi Ali (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)

Jurnalpolitik.com – Insiden penembakan imam salah satu masjid di Quens, New York, Maulama Akonjee (55), pada Sabtu (13/8) memantik kemarahan komunitas Muslim di AS.

Baca: Imam Masjid di New York Ditembak Orang Tak Dikenal Sehabis Salat Zuhur

Shamsi Ali, imam Besar New York, mengecam peristiwa yang merenggut nyawa teman sejawatnya sesama ulama di Amerika tersebut. Shamsi Ali punya analisis mengenai penyebabnya.

“Ini bukan pertama kali orang Islam diserang (di Amerika),” ucap Shamsi usai mengisi tablig akbar bertajuk ‘Telling Islam To the World‘ di Masjid Salman, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Jawa Barat Minggu (14/8/2016).

Nama Shamsi terpandang di mata pemerintah Amerika serta komunitas muslim yang bermukim di negara berjuluk Paman Sam ini. Shamsi merupakan warga Indonesia yang dikenal sebagai imam di Islamic Center of New York dan Direktur Jamaica Muslim Center New York.

Shamsi mengenal sosok Akonjee yang tewas Sabtu sore kemarin, waktu setempat. Polisi sampai saat ini belum mengetahui penyebab kejadian tersebut.

Berkaitan tertembaknya imam masjid tersebut, Shamsi menyebut pemicunya karena imbas sikap calon presiden Amerika, Donald Trump, yang selama ini menggelorakan anti-Islam. Capres dari Partai Republik itu kerapa berpidato soal kebencian terhadap Islam.

“Salah satu penyebabnya karena retorika politik kebencian yang dilakukan Donald Trump. Pidato-pidatonya anti Islam,” ujarnya

“Retorika anti Islam merupakan kejahatan,” ucap Shamsi menambahkan.

Baca: Simak “Perang Tweet” Menarik Duo Capres AS, Hillary dan Trump

Maulama Akonjee

Maulama Akonjee (55), imam masjid Al-Furqan Jame di Ozone Park, New York, Amerika Serikat, yang ditembak oleh orang tak dikenal

Lebih lanjut Shamsi menuturkan, insiden tertembaknya Maulama Akonjee membuat marah umat Islam di seluruh dunia. Agar peristiwa serupa tak terulang yang menyasar kaum muslim, Shamsi punya pesan penting untuk para politikus Amerika.

“Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi para politikus di Amerika Serikat agar menghentikan retorika politik antiislam. Karena bagaimanapun juga ini membangun kemarahan umat Islam. Saya kira ini anti Amerika, bukan hanya anti Islam,” kata Shamsi.

Menurut Shamsi, selama ini Amerika merupakan negara yang menjadi contoh teladan bagi dunia dalam hal demokrasi dan kebebasan beragama. Maka itu, ujar dia, sepatutnya Amerika mempertahankan imej tersebut tanpa dirusak segelintir orang yang mencoba memecah belah keragaman beragama.

“Retorika-retorika politik yang merusak citra Amerika ini harus dikurangi. Donald Trump bukan hanya merusak citra islam, tapi meruska citra amerika di mata internasional,” tutur Shamsi.

Dia mengaku tak bakal gentar dan tidak merasa takut untuk terus berdakwah menyebarkan Ajaran Islam di Amerika. “Saya enggak waswas. Saya optimistis bahwa Amerika itu negara hukum dan melindungi setiap penduduknya,” kata Shamsi.

Artikel Lain